"Tuhan ciptakan aku dan kamu dalam keimanan yang
berbeda
Namun Tuhan tempatkan aku dan kamu dalam satu nuansa cinta
Entah kenapa
Mungkin Tuhan ingin melihat kesabaranku
Atau Tuhan ingin menguji keimananmu
Bisa juga Tuhan begitu menyayangi kita
Sehingga kisah ku dan kamu tertulis tidak seperti pasangan pada umumnya
Padahal rasa ini nyata ada"
Namun Tuhan tempatkan aku dan kamu dalam satu nuansa cinta
Entah kenapa
Mungkin Tuhan ingin melihat kesabaranku
Atau Tuhan ingin menguji keimananmu
Bisa juga Tuhan begitu menyayangi kita
Sehingga kisah ku dan kamu tertulis tidak seperti pasangan pada umumnya
Padahal rasa ini nyata ada"
Sebuah penggalan kata yang saya sadur
dari seorang teman yang entah sengaja atau tidak menunjuk saya sebagai penulis
kisah cintanya dengan seorang wanita yang amat sangat dia sayangi. Ketika
kata cinta itu disebutkan mungkin tidak semudah seorang penjual bakso
menghidangkan masakan kepada pembelinya, tidak juga tidak semudah seorang penulis
mendengarkan curhatan teman dekatnya.
Rano pemuda yang dibesarkan di keluarga
yang memiliki latar belakang agama yang sangat kuat, ayahnya seorang pendeta di
sebuah gereja di salah satu kota di sumatra, sedangkan ibunya adalah aktivis
agama di gereja tersebut. Dengan latar belakang keluarga tersebut sangat wajar
reno luar biasa mencintai agamanya, agama yang merayakan natal setiap tanggal
25 desember ini, agama yang membuat rano mengerti harus dibawa kemana hidupnya.
Kiki adalah sosok seorang remaja wanita
yang dilahirkan dari rahim seorang wanita muslimah, keluarga kiki adalah
keluarga yang menganut islam secara sufi, mungkin bisa dikatakan sangat kuat
sekali prisip keluarga kiki akan islam.
Cinta, itulah cinta tidak mengenal
jarak, umur, waktu, ras, bahkan agama. Banyak cerita menarik yang terjadi di
sekitar kita mengenai cinta, manis, pahit, hitam, putih, itulah cinta. Ketika
dua insan memiliki satu keyakinan akan sebuah cinta mungkin bisa saja akal
pikiran sudah tidak lagi digunakan. Mungkin itulah yang dihadapi Rano dan Kiki
sepasang anak muda yang disatukan oleh sebuah kata yang bernama
"cinta"
Ditengah teriknya siang kota Surabaya,
tepat pertengahan Januari Rano dan Kiki baru saja selesai menyaksikan
pertunjunkan musik salah satu group band dari Jakarta di sebuah Mall ternama di
Surabaya, terbersit dalam fikiran Rano untuk mengajak Kiki makan siang
menjelang sore hari, yang biasa mereka sebut dengan kata ngemil-ngemil
lucu.
“Makan yuk, aku laper” sapa kiki
“Dimana?” jawab rano
“Ini daerah kamu, you choose!” ujar kiki
“Lagi
panas-panas gini, kayanya pancake dan icecream enak nih?” ajak rano
“Sounds
good” jawab kiki
Ajakan Rano dan panasnya udara siang itu mengantarkan mereka
ke sebuah tempat yang
sangat terkenal dengan kelezatan ice cream nya. Suasana toko yang sangat ramai,
ditambah lagi nuansa klasik yang jadi ciri khas dari toko tersebut sangatlah
membuat Rano dan Kiki terhanyut dalamnya. Tak lama menunggu pesanan mereka
datang.
“Selamat
makan!” ujar Kiki dengan ceria mengambil sendok untuk mencicipi rasa ice cream
yang dihidangkan.
“Selamat
makan! Pelan-pelan,” balas Rano sambil tersenyum geli melihat ketidaksabaran
Kiki.
Rano menatap
gelas ice creamnya lalu kemudian terpekur menunduk sambil memejamkan mata,
untuk berdoa. Ah ya. Hal yang akan selalu dilakukannya sebelum menyantap suatu
makanan. Ia menyisihkan beberapa detik dari waktunya untuk mengucap doa
Bapa kami.
Bukan
berarti Kiki makan tanpa berdoa. Tapi bentuk doa Kiki lebih sederhana. Hanya
mengucap ‘Bismillahirrahmanirohim’ dalam hati sambil menyantap suapan
pertama. Simpel saja.
Mengingat
kebiasaan kami yang berbeda, Rano tercenung. Ya, Tuhan memang ciptakan aku
dan dia berbeda. Ah tentu saja.
Dia dilahirkan dengan jenis kelamin wanita, sedangkan aku pria. Namun bukan
itu saja. Kami memiliki banyak perbedaan lainnya.
Seperti kecintaannya pada warna biru muda, sedangkan merah
pilihanku. Kami pun mendukung 2 tim sepak bola yang berbeda dari satu kota yang sama, persis seperti
warna favorit kami, jersey tim nya berwarna biru muda sedang tim unggulanku
mengenakan warna merah.
Tapi
perbedaan sepele seperti ini semestinya bukan masalah. Karna toh kata orang
perbedaan justru menjadi bumbu penyedap dalam suatu hubungan.
Perbedaan lainnya, ah, namaku memiliki marga, sedangkan dia
tidak. Asalku dari daerah barat, sedangkan ia dari timur. Namun apalah artinya
sebuah nama dengan marga. Bukan masalah besar. Justru kami mencerminkan
semangat Bhinekka Tunggal Ika yang digalakkan negeri ini sebagai semboyannya.
Ada ratusan ras dan suku bangsa di negara kita tercinta, bukan?
Ya,
perbedaan yang satu ini pun tidak menjadi persoalan berarti untuk Rano dan
Kiki. Rano rasa batas toleransi mereka masih lebih tinggi dari itu. Hanya ada
satu perbedaan mendasar yang mengganggu pikiran Rano. Perbedaan yang menjadikan
jalan ke depannya menjadi sulit dan berliku.
"Kami
menyakini Tuhan yang berbeda."
Rano tumbuh dengan ajaran sekolah minggu. Sedangkan Kiki dipanggilkan guru mengaji setiap sore ketika kecil dahulu.
"Ice cream nya enak" tanya kiki pada rano
"enak-enak" jawab rano sambil menyelesaikan
lamunannya
Pikiran Rano melayang kembali ke masa depan hubungan
mereka. Hingga saat ini rano masih belum tau hubungan ini akan dibawa
kemana.
Ada keegoisan mendasar dalam diri Kiki untuk mendengar imamnya nanti
mengucap ijab kabul dengan menggenggam tangan ayahnya di hadapan penghulu suatu
hari nanti. Tapi yakin begitu juga dengan Rano, ia bermimpi untuk
berjalan di altar lalu mengucapkan janji pernikahan dengan nama kristus untuk
mendidik keluarganya di jalan keselamatan yang diajarkan oleh-Nya.
Hanya dua hal yang sama dalam diri mereka, mereka sama-
sama meliki rasa cinta dan kasih sayang dan mereka sama- sama berprofesi
sebagai management
trainee di sebuah perusahaan rokok terkenal di negeri ini. Tetapi
persamaan profesi tersebut tidaklah mempemudah langkah mereka, mengingat
aturan dari perusahaan tersebut yang tidak memperbolehkan menikah dengan sesama
pegawai satu perusahaan.
Kiki
menyendok suapan terakhir dari ice cream miliknya lalu menatap ke arah rano.
“Kamu udah?
Kok bengong gitu?”
“Gapapa”
ujar rano sambil tersenyum lirih.
“Yuk, udah
jam segini, sudah masuk waktu magrib juga, aku harus sholat” Ujar Kiki
Rano
menghela napas panjang. Mengikuti Kiki berjalan pelan ke arah sebuah ruangan
yang dijadikan tempat untuk sholat.
"aku
sholat dulu y, kamu tidak apa-apa nunggu aku" ujar kiki
"iya
aku tunggu, aku juga mau membaca Alkitab sambil menunggu mu sholat" jawab
rano
Mengingat
kebiasaan mereka pada sepertiga malam, ketika kiki terbangun untuk melaksanakan
sholat tahajud pada waktu yang bersamaan rano sedang membaca doa dan mengkaji
alkitabnya, sebuah pemandangan yang indah, dua insan yang sangat rajin
beribadah, dan yakin kepada Tuhannya, tetapi dipisahakan oleh sebuah pemahaman
yang berbeda akan apa yang mereka sebut dengan Tuhan itu sendiri.
Disaat akhir dari hubungan cinta Rano dan Kiki, ada sebuah kata-kata yang
terlintas dalam fikiran Rano.
“Andai saja perbedaan kami sesimpel kecintaannya pada warna biru muda sedangkan
merah untukku
"Andai saja bukan gereja tempat yang aku kunjungi setiap minggu
sedangkan sajadah tempat dia bersujud dalam lima waktu."
"Andai saja bukan doa
Bapa kami yang aku baca ketika hendak makan sedangkan kata basmallah yang
terlafal dibibirnya.”
“Andai saja kami tidak pernah jatuh cinta.”
“Dan inilah sekelumit cerita aku, dia dan Tuhan”













